Wawancara Khusus 2 Tahun Tragedi Penyiraman Air Keras, Novel Baswedan: Dukungan Negara Semakin Lama Tidak Terlalu Terlihat

JawaPos.com – Dua tahun usai penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan telah berlalu. Namun hingga kini belum juga menemui titik terang pengungkapan kasusnya.

Meski atas serangan tersebut matanya menjadi cacat, namun Novel tidak menaruh dendam kepada aktor lapangan maupun aktor intelektual yang menyerangnya. Kendati demikian, suami Rina Emilda tersebut mempertanyakan sikap Presiden Joko Widodo yang enggan membentuk TGPF.

Kini, Novel harus bertahan dengan penglihatan yang tak normal. Meski demikian, dia tetap semangat bekerja memberantas korupsi seperti sedia kala. Untuk mengetahui lebih lanjut tanggapannya soal perkembangan kasus yang menimpanya, berikut wawancara khusus JawaPos.com dengan Novel Baswedan di kediamannya yang terletak di Jalan Deposito T, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (8/4).

Sudah dua tahun berlalu, namun hingga kini masih menjadi misteri siapa pelakunya. Apakah anda menyimpan dendam kepada penyerang dan aktor intelektual kasus anda?

Pernah saya sampaikan sebelumnya, saya sama sekali tidak menaruh dendam. Saya sudah sampaikan bahwa saya tidak pernah marah, saya tidak menyesali apa yang terjadi. Langkah itu saya ambil dengan kepentingan diri saya sendiri agar setidaknya saya tidak mau larut dalam permasalahan ini. Karena kalau saya dendam yang rugi diri saya sendiri.

Menurut anda apa yang membuat penyidik KPK lain kerap mendapat ancaman teror, penyiraman air keras terhadap anda khususnya?

Teror kepada orang KPK lebih dari 10 kejadiannya, saya sendiri mengalami beberapa, oke lah itu dihitung satu. Banyak yang terjadi sampai sekarang tidak ada satupun yg diungkap, ini sangat memprihatinkan di tengah korupsi yang luar biasa.

Pemberantasan korupsinya terlalu massif dilakukan, saya bisa katakan, yang melakukan dengan kualitas yang besar hanya KPK, kemudian KPK di serang, tentu ini suatu hal yang sangat memprihatinkan. Seperti kita ketahui di mana-mana di seluruh dunia. Koruptor itu diungkap selalu melakukan serangan balik, serangan balik ini mereka selalu mengukur kekuatan pemberantasan korupsi seperti apa, kira-kira keberpihakan negara seperti apa, kira-kira dukungan masyarakat seperti apa.

Memang poin yang terakhir disampaikan dukungan masyarakat kuat sekali, tetapi problemnya adalah dukungan negara itu semakin lama tidak terlalu terlihat, dan contohnya ketika orang KPK diserang di diamkan saja tidak diungkap. Itu jauh lebih berbahaya, akibatnya secara singkat kita bisa lihat penyerang ini tidak kapok.

Ketika tidak kapok penyerang ini semakin berani. Sekarang ini serangan kepada KPK paling berbahaya. Karena sampai membuat orang-orang KPK tertanggu dalam tugas keseharian. Tidak boleh lagi dibiarkan dan sangat beralasan pegawai KPK melalui wadah pegawai melakukan upaya mendesak pemerintah melakukan protes.

Setelah dua tahun berlalu bagaimana kondisi kesehatan mata anda?

Alhamdulillah, penglihatan mata saya sekarang sudah mulai membaik, saya bisa membaca dengan mata kiri tanpa menggunakan alat bantu dan tentunya mata kiri saya setelah operasi beberapa jaringannya adalah jaringan buatan. Maka saya menggunakan obat-obatan yang tentunya akan mengganggu kegiatan keseharian.

Sepanjang situasinya terkontrol dalam hal yang baik, saya bisa membaca dan melakukan aktivitas yang lumayan baik, tetapi mesti harus dijaga agar penglihatan itu tidak terus turun.

Pekerjaan anda sebagai penyidik apa ada kendala semenjak peristiwa ini?

Terganggu pastinya, karena saya memiliki kekurangan untuk melihat. Saya menggunakan obat yang terus menerus dalam rangka menjaga agar tidak mengganggu penglihatan. Tapi terlepas itu semua semangat menjadikan untuk menjaga hal-hal yang mungkin bisa saya lakukan.

Apa yang membuat anda sabar dan tegar menghadapi berbagai teror yang menimpa?

Pertama tentunya dari perspektif agama, saya meyakini segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah, apa yang saya alami ini keuntungan untuk saya. Jadi saya tidak pernah khawatir dengan ini.

Kedua, saya harus menjaga suasana hati saya agar bisa berbuat dengan sungguh-sungguh, dan itu diperlukan untuk perjuangan memberantas korupsi dalam jangka panjang. Anda bisa bayangkan orang yang memberantas korupsi menghadapi masalah kemudian mentalnya down (jatuh), atau dia ketika melakukan sesuatu tidak bisa melakukan perubahan, maka itu problem yang berat.

Saya pahami bahwa di Indonesia memberantas korupsi butuh jalan yang sangat panjang dan tentunya jalan itu akan lebih panjang apabila dukungan pemerintah tidak terlihat.

Polri sempat membuat sketsa wajah terduga penyiraman air keras dan terkini membuat tim gabungan dari pihak internal Polri dan pihak eksternal, bagaimana tanggapan anda?

Sketsa wajah ini dibuat setelah enam bulan kejadian, ini agak janggal. Masa sih sketsa wajah baru dibuat enam bulan setelah kejadian. Ternyata sketsa wajah dibuat Polri karena salah satu media membuat sketsa wajah dan mengumumkan ke publik. Jadi lebih dahulu media kemudian Polri membuat sketsa wajah.

Bahkan sketsa wajah dari penyidik Polri menurut para saksi tidak mirip, jauh dari wajah terduga pelaku sebenarnya. Justru media yang jauh mendekati pelaku sebenarnya, ini yang menjadi pertanyaan, masa iya Polri kemampuannya hanya segitu, rasanya enggak mungkin.

Setelah saya bersama teman-teman melakukan investigasi mencari fakta bahwa penanganan perkaranya tidak dilakukan atau kami yakini tidak sungguh-sungguh dilakukan, banyak bukti-bukti dihilangkan atau saksi-saksinya hilang. Hal itu kemudian, kami pada Mei 2018 melaporkan permasalahan itu ke Komnas HAM, hasil pemeriksaan itu muncul rekomendasi Komnas HAM dinyatakan bahwa orang-orang aktivis pemberantas korupsi kemudian disimpulkan adalah pejuang HAM.

Penyerangan kepada saya sistematis dan terorganisir, artinya ini bukan serangan pribadi atau sangat bisa sistematis dan terorganisir. Penanganan perkara terhadap kasusnya terjadi abuse of process dan berikutnya dibentuk tim gabungan di bawah Kapolri. Kata-kata dibawah Kapolri ini agak aneh, karena belum pernah Komnas HAM membuat rekomendasi seperti itu. Saya curiga jangan-jangan Komnas HAM ketakutan, dan ternyata kapolri membentuk tim gabungan itu menjelang debat Pilpres, tapi ternyata di dalam debat tidak disinggung.

Di beberapa kesempatan saya juga menyampaikan, apa bapak presiden mau diam saja, sudah dua tahun tidak diungkap apakah diam saja?. Orang-orang KPK diserang sampai semakin lama eskalasinya meningkat, terus apakah mau tetap diam saja tidak peduli. Kalau presiden diminta untuk membentuk TGPF itu, disampaikan kurang lebih setahun enam bulan yang lalu atau setahun delapan bulan yang lalu presiden didesak untuk membentuk TGPF. Pertanyaannya adalah memang kalau dibentuk TGPF ruginya apa untuk presiden?, apakah presiden akan malu? Tidak. Justru presiden akan nampak bahwa beliau adalah orang yang berpihak untuk kepentingan bangsa dan negara untuk kepentingan orang-orang yang berjuang memberantas korupsi, untuk kepentingan KPK.

Saya enggak tahu kenapa presiden sebegitu khawatirnya, sehingga tidak mau dibentuk. Memang resikonya apa si dibentuk TGPF?. Menurut saya resikonya cuma satu terungkap skandal ini, apakah itu resiko yang tidak dikehendaki oleh bapak presiden. Nah hal itu yang kemudian harus saya pertanyakan.

Apakah anda pernah diperiksa oleh tim gabungan itu?

Saya sudah pernah diperiksa, jadi dalam rangka diperiksa ini ada dua perspektifnya yang pertama dimintai keterangan. Saya dimintai keterangan sejak pertama kejadian, sejak satu jam kejadian saya bertemu dengan para penyidik memberikan keterangan. Cuma tidak di masukan berita acara pemeriksaan (BAP), itu intens terus sampai satu bulan kejadian.

Saya berikan keterangan dengan optimal terbuka apapun saya ceritakan apa yang mereka tanya, setelah saya berikan keterangan itu kemudian dari penyidik Polri menyatakan diminta untuk dituangkan ke BAP. Waktu itu saya sedang di rumah sakit, memang ketika di rumah sakit di luar negeri ada mekanisme pemeriksaan. Setelah saya keluar dari rumah sakit, maka saya sampaikan sebagai bentuk komitmen dan sungguh-sungguh ingin diungkap, maka saya mendatangi KBRI sesuai waktu yang dijanjikan penyidik untuk saya memberikan keterangan kepada penyidik dan itu sudah dituangkan ke BAP yang cukup lengkap 9-10 lembar keterangannya.

Jadi sebagai seorang korban, saya memberikan keterangan secara optimal. Terus pertanyaannya apakah tim gabungan sekarang sudah memeriksa saya lagi?, justru saya bertanya sebaliknya, memang mau apalagi, bukan kah abuse of process bukan pada diri saya. Kalau mau meriksa hanya mencari pembenaran sudah diperiksa, sudah bekerja ya mungkin bisa saja. Tapi bekerja bukan mencari pembenaran, bukan hanya bekerja telah sungguh-sungguh, tapi faktanya saja yang dilakukan.

Saya melihat pemeriksaan terhadap saya sudah dilakukan secara optimal, memang kemudian penyidik, bukan penyidik ya, ada seorang tim pakarnya meminta keterangan. Tapi yang saya agak khawatirkan adalah ketika tidak terlalu terlihat komitmen untuk mengungkap, maka keterangan lain yang saya sampaikan mungkin akan hanya menjadi indikator menangkis atau menangkal pihak-pihak yang menjadi aktor intelektual. Justru itu tidak menguntungkan. Maka saya selalu mengatakan tim gabungan penyelidik dan penyidik yang sekarang ada, kalau memang mau minta keterangan tolong saja sampaikan dengan jelas bahasanya lugas dan terbuka ke public, bahwa tim gabungan ini akan memeriksa semua yang diserahkan kepada orang-orang KPK, itu lebih jelas. Itu dari perspektif logis yang saya lihat.

Kalau dari perspektif mandat, tim ini hanya melapor kepada Kapolri tidak untuk disampaikan ke publik, jadi mandatnya hanya terbatas. Tim ini juga hanya memeriksa pasal 170 KUHP, artinya hanya pasal pengeroyokan saja. Jadi hal-hal itu saya melihat mandatnya terlalu kecil. Jadi memang tim ini yang dijadikan acuan bahwa negara hadir, saya melihat negara yang hadir ini tidak sungguh-sungguh.

Anda menyebut Presiden seakan berat untuk membentuk TGPF, apa anda masih meyakini karena masih ada jenderal di belakang kasus anda?

Saya meyakininya begitu, pastinya ada. Keyakinan saya bukan pakai rasa, pakai indikasi yang lebih kuat. Tapi kalau kita terus terjebak untuk membahas itu, yang paling tepat TGPF yang independen harus bebas dari belenggu kepentingan politik, orang-orang di dalamnya mempunyai track record yang dipercaya publik dan hanya mementingkan keadilan serta kebenaran diatas semua kepentingan lainnya. Itu yang harusnya dipilih. Bukan sekedarnya atau hanya dibentuk oleh orang yang tertutup saja.

Selain anda, pegawai KPK lain hingga pimpinan KPK juga mengalami teror, pandangan anda seperti apa?

Rasanya semua serangan ke orang-orang KPK itu terkait dengan perkara yang bergulir ya, tidak ada serangannya itu kebetulan kemudian acak atau serangannya masalah pribadi. Semua serangan terkait dengan penanganan perkara.

Jadi memang ada serangan kepada penyidik kepada kawan-kawan lain yang membantu tugas-tugas penyidik penyelidik, bahkan ada pimpinan KPK, semua terjadi dan tidak ada satupun yang terungkap.

Ketika mendapat teror apa yang harus dilakukan?

Tentunya ketika mendapat teror harus meminimalisir resiko yang terjadi, setelah itu tentunya melakukan konsolidasi dan antisipasi serta melaporkan itu kepada Polri. Pelaporan itu bisa datang ke tempat pelaporan atau bisa juga memberitahu ke pejabat kepolisian yang dengan begitu adalah salah satu wujud meminimalisir.

Contohnya ketika saya diserang saya langsung telepon Pak Kapolri, setelah itu Pak Kapolda telepon saya. Jadi itulah salah satu bentuk pelaporan tidak hanya dengan datang ke ruang pelaporan.

Bagaimana menghadapi koruptor yang kerap memanfaatkan jaringan ke penyelenggara negara?

Pastinya koruptor ini sangat merugikan negara, sangat merugikan masyarakat baik langsung maupun tidak langsung dan nilainya besar merusak sistem dan lainnya. Bagaimana cara melawannya? tentunya diperlukan konsistensi dalam rangka penegakan hukum dan itu perlu peran pemerintah yang kuat.

Pada dasarnya negara harus mempunyai sikap yang jelas dan tidak memberikan ruang kompromi kepada koruptor, maka koruptor akan takut. Permasalahannya sekarang koruptor itu punya banyak peluang untuk melakukan upaya penghindaran atau melakukan upaya perlawanan dan itu kemudian langkah yang banyak ditempuh, banyak dilakukan. Tetapi kalau sikap negara harus jelas, mana ada koruptor yang berani.

Setelah teror penyiraman air keras, apa masih ada teror atau ancaman lainnya?

Setelah serangan kepada saya dan saya ke Singapura untuk melakukan pengobatan, masih ada ancaman lain tetapi tidak selalu saya jadikan perhatian, memang ada surat yang disampaikan ke rumah. Memang ada juga yang disampaikan kepada orang lain ‘hati-hati mas kalau pulang kamu mau dihabisin’. Jadi ancaman itu tetap ada.

Bahkan ketika saya pulang pertama pun itu orang yg terduga pelaku ada di depan rumah, itu menurut rekan-rekan dari KPK yang hadir, yang ada di depan rumah dan melihat orangnya langsung.

Hal-hal seperti ini menunjukakan bahwa pelakunya tidak takut, dia merasa aman. Ini yang lucu di negara kita. Orang neror aparat loh ancamannya ditambah sepertiga dan ada ancaman lain yang berat.

Jadi negara melalui undang-undang sikapnya jelas. Tapi aparaturnya tidak mau mengungkap itu pelaku-pelakunya jadi berani, ini semakin kita miris melihatnya. Apakah mau diam? oh tidak. Enggak boleh lah seumpama terus kemudian korban merasa terintimidasi dan pelaku merasa aman. Ini bukan tujuan penegakan hukum, ini merusak.

Menjelang Pilpres, harapan anda apa untuk presiden ke depan?

Sikap bapak presiden sampai sekarang yang tetap tidak bergeming dan diam saja tentu mengecewakan, tapi bapak presiden juga menjadi calon presiden sekarang. Tentunya saya berharap bapak presiden bersikap tegas.

Janji presiden apa sih yang bagus untuk disampaikan ke publik? Sederhana saja, ini kan ketidakprofesionalan penanganan dan Kapolrinya masih sama, dari dua tahun yang lalu masih sama, saya kira seumpama presiden amu bersikap tegas. Presiden bisa saja bilang begini ke Kapolri dengan menyampaikan ke publik ‘saya beri waktu satu bulan lagi tidak bisa diungkap maka kapolrinya akan saya copot’. Wajar sekali bicara seperti itu.

Ini profesionalisme dan ini bukan terkait penyerangan kepada diri saya saja, dan penyerangan terhadap orang-orang KPK, semuanya tidak diungkap sama sekali, diperiksa pun tidak. Saya menyampaikan berkali-kali ke publik dan rasanya Kapolri tahu, presiden tahu, tapi menanya saja tidak pernah, terganggu juga tidak.

Apakah KPK itu yang memberantas korupsi tidak disukai?, berarti tidak suka dong memberantas korupsi. Jadi jangan justru nampak seolah-olah siapapun pejabat di sana terlihat seperti tidak suka dengan adanya KPK.

Ada pesan khusus untuk masyarakat Indonesia agar turut serta membantu pencegahan dan pemberantasan korupsi di Indonesia?

Tentunya berharap ke depan pemberantasan korupsi mendapat ruang yang cukup besar dan mendapat perhatian. Kenapa saya mau katakan masalah untuk memperbaiki negara menjadi prioritas? kebijakan hukum dan pemberantasan korupsi itu salah satu penagakan hukum. Jadi percuma, kalau sedang asik diskusi kebijakan ekonomi, kebijakan politik, kebijakan sosial tapi penegakan hukumnya berantakan, penegakan hukumnya korup, penegakan hukumnya tidak adil.

Maka semua kebijakan apapun akan dicurangi, akan diakali, akan dibikin jalan keluar dari belakang, akan ditransaksikan dan itu kebijakan apapun tidak bisa memajukan negara.

Lihat negara maju apapun pasti penegakan hukumnya beres. Kalau penegakan hukumnya enggak beres pasti negara itu enggak maju. Semoga penegakan hukum di negara kita bisa lebih baik. Semoga pemerintah menjadikan isu utama, isu strategis  dalam kebijakannya dalam rangka penegakan hukum, terutama korupsi.