Teror Bom Jateng Dikaitkan dengan Pilpres, Polisi Jawab Begini

JawaPos.com – Teror pembakaran kendaraan di sejumlah wilayah di Jawa Tengah menarik atensi pihak kepolisian. Mereka terus memburu pelaku untuk mengetahui motif atas aksi tersebut.

Soal sejumlah pihak yang menilai teror ini bermotif politik, Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Syahar Diantono enggan berspekulasi. Katanya, yang utama saat ini bahwa aksi pembakaran kendaraan ini merupakan bentuk tindak pidana.

“Gini, penyidikan dari Polri selalu dasarnya tindak pidana. Itu yang kami sidik. Terkait dugaan itu (motif politik) nanti dulu lah. Yang jelas itu merupakan tindak pidana yang harus diungkap,” tegasnya di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Jumat (8/2).

Syahar menegaskan bahwa saat ini Kepolisian sedang mendalami data-data dari tempat kejadian perkara (TKP). Motifnya sementara ini diduga untuk meresahkan masyarakat menggunakan kain yang dibasahi dengan bensin.

“Semua data-data di TKP dan saksi kita analisa. Kita tunggu saja semoga cepat terungkap,” tegas Syahar.

Selain itu, upaya-upaya preventif dalam rangka untuk mencegah terjadinya kasus pembakaran itu juga dilakukan Polda Jawa Tengah dengan menggandeng stakholder terkait seperti TNI dan masyarakat. Patroli dan penjagaan wilayah juga dilakukan seharian penuh. Terutama di jam-jam rawan seperti pukul 02.00- 05.00 WIB.

“Itu diperlukan kehadiran aparat keamanan. Dengan wilayah yang luas kan tentunya Polri juga butuh bantuan dari masyarakat, sedangkan Polda menurunkan 1.200 personel,” tegas Syahar.

Sebelumnya, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai teror di Jawa Tengah berkaitan dengan suhu politik menjelang Pilpres 2019.

Bagaimanapun katanya, Jawa Tengah adalah wilayah paling panas menjelang Pilpres 2019. Hal ini dikarenakan Jawa Tengah adalah lumbung suara Jokowi, sementara kubu Prabowo membangun sejumlah posko pemenangan di sana.

Jadi menurut Neta, bukan mustahil ada kelompok tertentu yang memancing di air keruh untuk membenturkan kedua kubu.

Editor           : Erna Martiyanti
Reporter      : Desyinta Nuraini