Tangkap Sindikat Perdagangan Orang, Polri Sebut Korbannya Ribuan

JawaPos.com – Bareskrim Polri berhasil menangkap delapan tersangka sindikat tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Mereka mengirim warga negara Indonesia (WNI) untuk dipekerjakan di luar negeri secara ilegal.

Adapun yang mencengangkan, korbannya lebih dari seribu orang. “TPPO ini kasus yang terbesar yang pernah diungkap Polri karena korbannya lebih dari seribu orang. Ini kejahatan transnational organized crime,” tegas Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Gedung Bareskrim, Jakarta, Selasa (9/4).

Total ada empat jaringan yang terlibat dalam kasus perdagangan orang tersebut. yakni jaringan Maroko, Arab Saudi, Suriah, dan Turki.

Dedi menyebut keuntungan yang diterima masing-masing tersangka dari hasil kejahatannya cukup banyak dan bervariasi. Biasanya mereka menjual korbannya dengan kisaran harga Rp 3-7 juta.

Untuk jaringan Maroko, keuntungan yang didapat hampir Rp 1,5 miliar. Syria sekitar Rp 900 juta, Turki sebanyak 700 juta, dan Turki kisaran Rp 600 juta.

“Artinya (keuntungannya) miliaran rupiah dalam jaringan ini. Sudah pendapatan bersih. Ini dari hasil pemeriksaan sementara dan audit penyidik,” ungkap Dedi. Polri mengungkap sindikat perdagangan orang. (Desyinta Nuraini/ JawaPos.com)

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak merinci, penangkapan jaringan Maroko ada dua tersangka, Mutiara dan Farhan.

“Dua tersangka ini rekornya cukup hebat. Mutiara merekrut dan kirim lebih dari 300 orang. Farhan kurang lebih 200 orang diberangkatkan (untuk jadi TKI ilegal),” sebutnya.

Sekitar 500 korban itu berasal dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. “Kemudian dibawa ke Lombok kemudian ke Jakarta. Ditampung di Batam, diseberangkan ke Malaysia, lalu diberangkatkan ke Maroko,” beber Herry.

Mereka menawarkan korbannya bekerja di Maroko sebagau pembantu dengan gaji Rp 3-4 juta. “Tapi tidak bisa ditindaklanjuti karena sering alami kekerasan,” imbuhnya.

Lalu untuk jaringan Turki, polisi menetapkan Erna Rachmawati dan Saleha sebagai tersangka. Mereka memberangkatkan sekitar 220 orang yang sebagian besar berasal dari Bima, NTB dengan iming-iming gaji sebesar Rp 7 juta per bulan.

“Jalur yang dilakukan dari Jakarta-Oman-Istambul,” ucap Herry.

Untuk jaringan Syria, pelakunya Abdul Halim Herlangga. Tersangka itu menjual 300 orang untuk dipekerjakan melalui jalur Jakarta-Surabaya-Malaysia- Dubai-Turki-Sudan-Syria.

“Mereka dikirim dari Malaysia untuk dapat kemudahan ke luar negeri. Karena sampai saat ini masih moratorium. Jadi tidak ada pengiriman pekerja ke Timur Tengah,” sebut dia.

Terakhir jaringan Arab Saudi. Polisi juga menetapkan dua orang sebagai tersangka. Mereka adalah warga negara Ethiopia Faisal Hussein Safeed dan Abdalla Ibrahim.

Herry menerangkan, para tersangka itu dijerat Pasal 4 san Pasal 10 UU Nomor 21 tahun 2007 tentang TPPO. Lalu, Pasal 81 dan Pasal 86 huruf b UU Nomor 18 tahun 2017 tentang perlindungan pekerja migran Indonesia.

“Ancaman hukuman maksimal 15 tahun untuk TPPO. Kemudian 10 tahun tentang undang-undang perlindungan pekerja migran,” tukasnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Desyinta Nuraini