Sempat Gabung ke Taliban, Ipar Dulmatin Ini Penyandang Dana Teroris

JawaPos.com – Harry Kuncoro (HK), warga Klaten, Jawa Tengah yang ditangkap polisi beberapa waktu lalu memiliki peran penting bagi tumbuhnya teroris di Indonesia. Dia disebut-sebut sebagai penyandang dana.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, Harry ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, saat hendak bertolak ke Suriah. Rencana kepergiannya itu merupakan perintah Abu Walid alias Muhammad Syaifudin, warga Sukoharjo yang merupakan sosok algojo ISIS.

Abu Walid memberikan uang sebanyak Rp 30 juta kepada Harry untuk berangkat ke Suriah melalui Iran. “Abu Walid memberi saran kepada tersangka HK untuk segera bergabung ke suriah dengan mentransfer uang sebanyak Rp 30 juta untuk kepengurusan dokumen keberangkatan termasuk tiket,” tutur Dedi di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Senin (11/2).

Harry dijanjikan akan diberi uang jika tiba di Suriah. Uang tersebut dipakai untuk membiayai kelompok teroris di Indonesia.

“Tersangka setelah dapat uang, dia memberikan uang ke slepping sel di Indonesia untuk lakukan aksi teror di Indonesia,” beber Dedi.

Untung saja, sleeping sel kelompok teroris itu dalam pantauan ketat Densus 88 Anti-teror maupun Satgas Anti-teror di seluruh Polda.

Ya, Harry merupakan sosok yang dikenal para teroris di Indonesia. Dia sempat bergabung dengan kelompok Taliban Melaya pada 2011. Dia sendiri merupakan adik ipar perencana bom dua deskotek di Bali, Djoko Pitono alias Dulmatin.

Harry juga pernah bergabung dengan Jamaah Islamiyah (JI) bersama Noordin M Top dan Dr. Azhari. Dia pernah terlibat dalam beberapa aksi teror. Antara lain di Bali, NTB, serangan pada Juli 2018, dan aksi terorisme di Yogyakarta.

Tak ayal, beberapa kali Harry keluar masuk penjara dan tak kunjung jera. “Dia napiter senior yang punya koneksi langsung ke luar negeri dan dianggap menguasai wilayah Indonesia dan Asia karena pernah belajar di Arab Saudi dan giat di Afghanistan. Jadi rekam jejak cukup panjang,” tukas Dedi.

Editor           : Erna Martiyanti
Reporter      : Desyinta Nuraini