Saat Pencoblosan, Polri Tambah Pengamanan di Wilayah Rawan Konflik

JawaPos.com – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) bakal mempertebal pengamanan di tempat pemungutan suara (TPS) yang terbilang rawan dan sangat rawan. Yakni dengan menambah kekuatan baik personel Polri, TNI, dan lintas masyarakat (Linmas)

Adapun kategori rawan kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian, apabila proporsi pendukung capres cawapres nomor urut 01 dan 02, termasuk caleg, proporsinya relatif sama. Sementara sangat rawan yakni basis dukungan hampir sama, memiliki sejarah konflik, atau muncul isu sensitif seperti isu sengketa tanah, dan SARA.

“Kemudian kami melihat daerah yang dianggap itu ada rawan kumpulan-kumpulan massa yang bisa memberikan tekanan psikologis, intimidasi. Ini juga kami waspadai dengan menambah perkuatan dan kekuatan standby,” kata dia usai menghadiri rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (15/4).

Untuk menjaga keamanan dan ketertiban Pemilu 2019, Polri juga melakukan penebalan patroli gabungan serta pos gabungan dengan TNI di daerah yang dianggap rawan psikologis. “Misal warga minoritas atau di tempat yang mungkin mudah diprovokasi, di daerah padat penduduk. Ini juga kami perkuat,” tegasnya.

Patroli turut dilakukan di tempat perekonomian. Namun hal itu hanya bersifat situasional, karena kalau berlebihan dikhawatirkan menimbulkan kesan yang kurang baik.

Secara terpisah, Kepala Biro Penerangan Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, Polri setidaknya menerjunkan 271.880 personel dalam rangka pengamanan pemilu. Dibantu dengan 68.854 anggota TNI dan 1,6 juta orang Linmas.

Untuk pola pengamanannya, lebih rinci ia menerangkan, jika wilayah yang kurang rawan dua orang polisi dan enam linmas menjaga empat TPS. Sementara wilayah rawan, setiap dua TPS dijaga empat anggota polri dan delapan anggota linmas.

Kemudian untuk wilayah sangat rawan, setiap dua TPS dijaga enam polisi beserta delapan linmas. “Secara provinsi itu Maluku Utara, Papua Barat, Papua, NTT, Sulteng, Aceh, termasuk DIY serta Jakarta,” beber Dedi.

Editor : Erna Martiyanti

Reporter : Desyinta Nuraini