Penyuap Hakim Tipikor Medan Dituntut 7 Tahun Penjara

JawaPos.com – Terdakwa pemberi suap hakim adhoc Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Medan, Tamin Sukardi dituntut 7 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain itu, Tamin dituntut denda Rp 400 juta subsider enam bulan kurungan.

“Meminta majelis hakim untuk menjatuhkan hukuman kepada Tamin Sukardi 7 tahun penjara,” kata jaksa Luki Dwi Nugroho saat membacakan surat tuntutan di PN TIpikor Jakarta, Senin (11/3).

Jaksa menilai, Tamin Sukardi terbukti melakukan suap kepada Merry Purba selaku hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Medan. Dia bersama-sama dengan Hadi Setiawan alias Erik, menyuap hakim Merry Purba melalui panitera pengganti Helpandi sebesar USD 150.000.

Selain kepada Merry, Tamin Sukardi juga berencana memberikan uang 130.000 dollar Singapura kepada hakim Sontan Merauke Sinaga. Namun, keburu ditangkap KPK.

Upaya pemberian uang itu dilakukan untuk mempengaruhi putusan hakim dalam perkara korupsi pengalihan tanah negara atau milik PTPN II Tanjung Morawa di Pasar VI Desa Helvetia, di Deli Serdang, Sumatera Utara. Adapun, Tamin Sukardi menjadi terdakwa dalam perkara dugaan korupsi itu.

“Perbuatan terdakwa mencemarkan dan merusak nama baik lembaga peradilan, serta nama baik profesi hakim,” ucap jaksa.

Selain itu, hal yang memberatkan karena perbuatannya merupakan pelaku aktif dalam melakukan peran yang cukup dominan dalam pelaksanaan kejahatan suap kepada hakim Merry Purba.

“Untuk hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum, dan menyesali perbuatannya. Terdakwa telah berusia lanjut dan menderita penyakit yang perlu perawatan yang berkesinambungan,” jelas jaksa.

Jaksa menilai, Tamin terbukti melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentabf Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. 

Editor           : Imam Solehudin
Reporter      : Muhammad Ridwan