KPK Temukan ‘Cap Jempol’ di Ratusan Ribu Amplop Miliki Bowo

JawaPos.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah mulai membuka barang bukti (barbuk) yang disita dalam perkara yang melilit politikus Golkar Bowo Sidik Pangarso. Semuanya ada 82 kardus dan dan kontainer yang diduga untuk ‘serangan fajar’ pada hari pencoblosan 17 April nanti.

Diketahui dari 82 kardus dan dua kontainer itu ada gambar ‘cap jempol’, namun tidak ditemukan adanya nomor urut. Semuanya, berisikin 400 ribu amplop putih bernilai Rp 8 miliar. Namun, sejauh ini KPK baru membongkar 3 kardus di antara puluhan kardus tersebut.

“Sampai hari ini masih berjalan (pembongkaran) kardus ketiga. Masih ada sekitar 79 kardus lagi dan dua kontainer (yang belum dibongkar),” ujar juru bicara KPK Febri Diansyah pada awak media, Selasa (2/4)

Lebih lanjut, dia membeberkan pembongkaran kardus itu harus sesuai dengan hukum acara yang berlaku. Dia menyebut dari 3 kardus yang dibongkar itu terdapat 12.300 amplop dalam 123 boks besar amplop.

“Total ada Rp 246 juta dari 3 kardus yang dibongkar. Pecahan Rp 20 ribu, sebagian kecil Rp 50 ribu,” papar Febri.

Terkait penggunaan uang yang ditemukan itu, kata Febri diduga untuk serangan fajar jelang pemilu legislatif 2019, mendatang. “Kalau dugaan keterkaitan dan dugaan penggunaannya amplop-amplop tersebut diduga akan digunakan untuk serangan fajar, untuk kepentingan pemilu legislatif khususnya pencalegan BSP (Bowo Sidik Pangarso) di Dapil 2 Jawa Tengah,” jelas Febri.

Dalam perkara ini, Bowo ditetapkan KPK sebagai tersangka karena diduga menerima suap dari Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti lewat orang kepercayaannya bernama Indung. Ketiga orang itu telah ditetapkan menjadi tersangka.

Anggota Komisi VI DPR itu diduga menerima suap untuk membantu PT HTK kembali mendapat perjanjian penggunaan kapal-kapalnya untuk distribusi pupuk dari PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Bowo pun meminta imbalan sebesar USD 2 per metrik ton.

KPK menduga Bowo sudah menerima 7 kali suap dari Asty dengan total duit sekitar Rp 1,6 miliar. Jumlah itu terdiri dari Rp 89,4 juta yang diterima Bowo melalui Indung saat OTT dan 6 penerimaan sebelumnya yang disebut KPK sebesar Rp 221 juta dan USD 85.130. Selain penerimaan uang dari Asty terkait distribusi pupuk itu, KPK menduga Bowo menerima gratifikasi dari pihak lain senilai Rp 6,5 miliar.