KPK Minta Ketegasan Pimpinan BUMN Ciptakan Good Corporate Governance

JawaPos.com – Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang mengingatkan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menjaga tata kelola perusahaan dengan baik. Imbauan ini ia sampaikan menyusul dijeratnya Manajer Wilayah II PT Wijaya Karya I Ketut Suarbawa sebagai tersangka kasus korupsi pembangunan Jembatan Bangkinang, Kabupaten Kampar, Riau.

“Seharusnya ada sikap tegas di kepemimpinan BUMN untuk menerapkan good corporate governance, apalagi dalam proyek konstruksi. Jika korupsi tidak terjadi, maka masyarakat akan lebih menikmati hasil pembangunan,” kata Saut saat dikonfirmasi, Jumat (15/3).

Saut teramat menyesalkan pejabat BUMN kembali terjerat kasus korupsi. KPK juga menyayangkan korupsi di sektor infrastruktur kembali terjadi.

Seharusnya, tegas Saut, masyarakat berhak menikmati hasil pembangunan secara layak. Namun kenyataannya, terjadi dugaan aliran dana atau permainan dalam proses tender yang melawan hukum hingga berujung kerugian negara.

Di sisi lain, dia menuturkan, pihaknya berencana mengubah strategi penanganan dugaan korupsi yang melibatkan pihak korporasi. “Biasanya, setelah inkracht kemudian kami masuk di pidana korporasinya. Sekarang, di penyelidikan akan kami upayakan,” katanya di Gedung KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (14/3).

Saut berharap perubahan strategi ini dapat membantu pencapaian target KPK, yakni lebih intensif menggarap korporasi nakal. “Sehingga lebih membawa dampak terhadap perbaikan ekonomi kita secara keseluruhan,” tegas Saut.

Saut menilai jika dugaan keterlibatan korporasi sudah didalami sejak penyelidikan, maka proses penanganannya bisa lebih cepat. Dia menyebut selama ini KPK butuh waktu lama untuk menjerat suatu korporasi.

Untuk diketahui, sejauh ini sudah lima korporasi yang dijerat KPK sebagai tersangka. Kelima perusahaan itu ialah PT DGI (Duta Graha Indah)/Nusa Konstruksi Enjinering (NKE), PT Tuah Sejati, PT Nindya Karya, PT Tradha (Putra Ramadhan) dan PT Merial Esa (PT ME).

Editor           : Estu Suryowati
Reporter      : Intan Piliang