Kondisi Tubuh Pelaku Bom Filipina Hancur

JawaPos.com – Tim gabungan dari Indonesia masih menyelidiki identifikasi pelaku bom bunuh diri di gereja Katedral, Jolo, Filipina. Mereka menemui kesulitan lantaran tubuh pelaku yang diduga pasutri warga negara Indonesia (WNI) itu dalam kondisi yang cukup buruk. 

“Tim masih di sana. Karena mohon maaf ya, di Filipina itu body pelaku  betul-betul hancur karena itu high explosive,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta, Senin (11/2). 

Dari serpihan tubuh pelaku itu, kata Dedi, tim harus menemukan DNA-nya. Kalaupun DNA-nya sudah ditemukan, tim harus menemukan pihak keluarga yang memiliki garis keturunan langsung, terutama orang tuanya. 

Artinya, perlu data pembanding terhadap DNA tersebut. “Siapa keluarga dan pembandingnya. Kalau sudah ada kesamaan baru dipublish,” tegas Dedi.

Selain memeriksa identitas pelaku, tim katanya juga melakukan investigasi terhadap lima anggota Abu Sayyaf yang menyerahkan diri atas kejadian ini. “Masih proses investigasi dan lima tersangka menyerahkan diri sedang diinterogasi untuk memastikan dua orang itu,” tukas Dedi. 

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Filipina, Eduardo Ano, pada pekan lalu menyatakan bahwa pelaku serangan bom bunuh diri yang menewaskan 21 orang pada Minggu (27/1) di Gereja Katedral, Jolo adalah pasangan suami istri asal Indonesia. Dia mengatakan salah seorang dari pasangan WNI bernama Abu Huda. Meski demikian, Ano tidak menjabarkan bukti yang melandaskan pernyataannya tersebut. 

Mendengar hal itu, Indonesia pun mengirim tim gabungan yang terdiri dari personel Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri, Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), serta Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Sementara itu, pada 5 Februari kemarin, Kepolisian Filipina menyebut lima anggota kelompok milisi Abu Sayyaf telah menyerahkan diri. Salah satunya, Kammah Pae alias Kamah.

Dia disebut-sebut sebagai petinggi Abu Sayyaf yang membantu dua pelaku penyerangan di Jolo. Kamah dan empat rekannya mengaku terpaksa menyerahkan diri agar tidak tewas dalam operasi gabungan militer-polisi setelah pengeboman. 

Editor           : Bintang Pradewo
Reporter      : Desyinta Nuraini