KemenPPPA: Tersangka Penganiaya AU dalam Kondisi Depresi Berat

JawaPos.com – Ketiga pelaku pengeroyokan pelajar SMP AU, 14, mengalami depresi setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian. Para siswi SMA itu antara lain FZ alias LL, 17; TR alias AR, 17; dan NB alias EC, 17.

Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Pribudiarta Nur Sitepu mengatakan, mereka telah ditangani karena merasa tertekan secara psikologis dan putus asa.

“Pada hari ini luar biasa tekanan psikologis terhadap tiga anak, satu anak sudah harus ditangani khusus karena sudah putus asa. Dua anak yang lain sedang dalam proses penanganan. Jadi kondisi pada hari ini yang harus diketahui dari semua pihak, anak itu dalam kondisi depresi berat,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar di kantor KemenPPPA, Jakarta Pusat, Kamis (11/4).

Menurutnya, hal itu terjadi karena hukuman sosial yang diterima pasca kasus tersebut mencuat ke publik. Masyarakat telah sangat keras menghakimi mereka.

“Itu sudah jadi hukuman sosial jadi untuk apa lagi dihukum lagi karena hukumnan masyarakat sudah sangat keras. Tinggal kita tidak mau terjadi lagi itu yang menjdi penting pencegahan agar tidak terjadi,” terang Pri.

Sebelumnya, usai ditetapkan sebagai tersangka, satu di antara tujuh pelajar yang dihadirkan di Mapolresta Pontianak kemarin juga mengaku telah menjadi korban atas tuduhan yang keliru. “Saya dituduh sebagai pelaku. Padahal, saya tidak di lokasi,” ungkapnya.

Mereka juga mengaku mendapat intimidasi setelah kasus tersebut viral. Di media sosial, mereka memperoleh banyak komentar dari netizen. Bahkan, dengan kata-kata yang tidak pantas. “Kami juga menjadi korban,” kata salah seorang pelajar.

Meski begitu, tersangka mengakui perbuatannya terhadap AU. Tersangka menyebut dua lokasi penganiayaan. Di lokasi pertama, korban dianiaya satu tersangka. Lalu, di lokasi kedua, penganiaya melibatkan dua orang. Tiga orang itulah yang kini ditetapkan sebagai tersangka.

Menurut keterangan salah seorang tersangka, penganiayaan itu bermotif sakit hati. Dia menyebutkan bahwa korban kerap mengungkit-ungkit persoalan piutang yang pernah dilakukan almarhumah ibu tersangka. “Dia suka bilang bahwa mama saya suka pinjam uang,” katanya.

Dia mengakui bahwa AU adalah temannya. “Kalau AU tidak membuat omongan seperti ini, saya juga tidak akan melakukan hal ini. Saya kesal sampai saya tidak bisa mengontrol emosi,” ucapnya.

Sebelum memberikan keterangan di Mapolresta, keluarga dan para pelaku penganiayaan mendatangi kantor KPPAD Kalbar untuk meminta perlindungan.