Kasus Bowo Pangarso, KPK Dalami Sewa Menyewa Kapal PT Pilog-Humpuss

JawaPos.com – Selain memanggil seorang wanita Siesa Darubinta, penyidik juga memanggil Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bowo Sidik Pangarso. Dia diperiksa terkait kasus suap perjanjian penggunaan kapal-kapalnya untuk distribusi pupuk dari PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog).

Usai diperiksa, Bowo tampak terburu-buru dan enggan menanggapi pertanyaan awak media. Padahal, usai menjalani pemeriksaan pada (9/4), lalu anggota DPR Fraksi Golkar ini sempat ‘bernyanyi’ terkait nama Nusron Wahid yang meminta menyediakan uang serangan fajar.

Ketika disinggung terkait apa hubungan dirinya dengan Siesa, yang juga diperiksa sebagai saksi terkait kasusnya hari ini. Bowo juga memilih bungkam.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan, Bowo diminta datang ke gedung KPK guna mengurus keperluan perpanjangan masa penahanan selama 40 hari ke depan.

Tak hanya Bowo, masa penahanan 2 tersangka lainnya, yakni Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti dan Indung, juga diperpanjang. “Hari ini dilakukan perpanjangan penahanan 40 hari dimulai tanggal 17 April 2019 sampai dengan 26 Mei 2019 untuk 3 tersangka,” ucapnya pada awak media, Senin (15/4).

Sementara, terkait dua saksi yang juga dipanggil untuk tersangka yang merupakan Marketing Manager PT HTK, Asty Winasti. Saksi itu bernama Staf Finance dan Treasury PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK), Desi Artinesti dan Direktur PT Kopindo Cipta Sejahtera, Bambang Tedjo Karjanto.

“Penyidik hari ini mendalami informasi mengenai mekanisme kerjasama sewa menyewa kapal antara PT PILOG dan Humpuss,” imbuh Febri.

Sebelumnya, dalam perkara ini KPK menetapkan tiga tersangka selain Bowo dan Asty, ada satu pihak lainnya yaitu Indung yang merupakan karyawan PT Inersia.

Anggota Komisi VI DPR ini diduga menerima suap dari Asty lewat seseorang bernama Indung dengan jumlah sekitar Rp 1,5 miliar dalam 6 kali pemberian dan Rp 89,4 juta yang disita saat OTT terhadap Bowo.

Suap itu diduga diberikan agar Bowo membantu proses perjanjian penggunaan kapal PT HTK oleh PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Selain duit dari Asty, Bowo diduga menerima gratifikasi Rp 6,5 miliar. Asty dan Indung juga sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Kemudian, uang Rp 1,5 miliar dan Rp 6,5 miliar alias senilai Rp 8 miliar itu kemudian disita KPK dalam 400 ribu amplop. KPK menduga amplop-amplop itu bakal digunakan untuk serangan fajar demi kepentingan pemilu legislatif yang diikuti Bowo. Bowo merupakan caleg DPR dapil Jateng II nomor urut 2 dari Partai Golkar.