Jokowi Diminta Cabut Keppres Remisi untuk Pembunuh Jurnalis

JawaPos.com – Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Hukum menilai remisi perubahan untuk terpidana kasus pembunuhan I Nyoman Susrama tidak berdasar. Sebab untuk mengubah putusan pengadilan perlu kembali adanya putusan pengadilan.

Namun, Susrama diberikan remisi dari vonis seumur hidup menjadi pidana kurungan 20 tahun penjara. Ini tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2018.

“Putusan pengadilan enggak bisa diubah oleh siapapun, seharusnya diubah dengan pengadilan lagi. Bukan Keppres,” kata pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (7/2).

Fickar memandang, jika negara mau mengubah bentuk hukuman, hal yang bisa dilakukan pemerintah adalah dengan mengeluarkan grasi.

“Jika kemudian dikatakan ada dasarnya Keppres 174/1999, maka Keppres tersebut sesungguhnya telah batal demi hukum karena bertentangan dengan UU,” tegas Fickar.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Universitas Andalas Feri Amsari menganggap negara berpotensi melakukan kesalahan dalam memberi remisi untuk Susrama. Menurutnya, kesalahan mungkin muncul karena Presiden Joko Widodo dan Kementerian Hukum dan HAM tidak menelaah rinci daftar napi yang akan diberi remisi.

“Pada kasus Susrama ada 115 orang yang diberikan remisi. Apakah Kemenkumham atau Presiden baca semua? Saya rasa nggak,” tutur Feri.

Feri menyebut, negara harusnya melacak terlebih dulu latar belakang pidana yang menjerat seorang terpidana sebelum memberi remisi. Jika pidana yang dilakukan seorang napi tergolong berat, harusnya pengurangan hukuman tidak diberikan.

Saran itu disampaikan karena Feri takut napi yang berbuat kejahatan berat mengulangi perbuatannya jika bebas. Dia menganggap remisi tak bisa diberikan meski napi yang melakukan kejahatan berat sudah berkelakuan baik selama di lembaga pemasyarakatan.

“Saya menyarankan presiden, kalau ada keberatan diajukan ya presiden harus merespons. Ubah keputusannya, jangan kemudian bertahan di sesuatu yang salah. Sesederhana itu keputusan presiden,” jelasnya.

Untuk diketahui, Susrama adalah otak dibalik pembunuhan jurnalis Radar Bali (Jawa Pos Group) AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, 2009 lalu. Dia divonis bersalah dan mendapat hukuman penjara seumur hidup karena perannya di kasus tersebut.

Susrama bukan satu-satunya terpidana penjara seumur hidup yang mendapat perubahan pidana berdasarkan Keppres 29/2018. Ada 114 terpidana lain yang juga bernasib sama dengannya.

Editor           : Kuswandi
Reporter      : Muhammad Ridwan