Ditetapkan Tersangka, Segini Harta Anggota DPR Fraksi PAN Sukiman

JawaPos.com – Anggota DPR Fraksi PAN Sukiman ditetapkan KPK sebagai tersangka oleh KPK. Penetapan tersangka ini berkaitan dengan kasus suap APBD dana perimbangan APBN-P 2017 dan 2018 untuk kabupaten Pengunungan Arfak.

Dalam laman website Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN),  Sukiman diketahui memiliki harta kekayaan senilai Rp 5 miliar lebih yang dilaporkan 9 tahun lalu ke KPK.

Sukiman tercatat terakhir kali menyetorkannya pada 18 Februari 2010 dengan status sebagai anggota DPR periode 2009-2014 sekaligus calon Bupati Melawai periode 2010-2015.

Angka itu meningkat jauh dibanding pelaporan LHKPN sebelumnya, yaitu pada 2003, dengan nilai kekayaan hanya Rp 219,5 juta.

Dari LHKPN itu, Sukiman mencatatkan harta berupa tanah dan bangunan dengan nilai total Rp 3.351.940.000 yang tersebar di Kabupaten Melawai dan Pontianak. Selain itu, dia juga melaporkan harta berupa alat transportasi yang nilai totalnya Rp 782 juta.

Namun, tak hanya itu Sukiman juga memiliki usaha lain, seperti SPBU, dan simpanan berupa giro atau setara kas. Total harta yang dilaporkan Sukiman tercatat Rp 5.052.553.698.

Sebelumnya, KPK menetapkan Sukiman sebagai tersangka dengan dugaan penerimaan suap untuk memuluskan pengurusan dana perimbangan yang diajukan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf), Papua Barat, melalui Dinas PU.

Dia diduga menerima dana dari Natan Pasomba sebagai Pelaksana Tugas dan Pejabat Kepala Dinas PU Kabupaten Pegaf, yang juga dijerat sebagai tersangka.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menyebut Natan diduga memberi uang sebesar Rp 4,41 miliar kepada Sukiman. Namun yang diterima Sukiman yaitu senilai Rp 2,65 miliar dan USD 22,000.

Kata Saut, uang tersebut merupakan commitment fee sebesar 9 persen dari dana perimbangan yang dialokasikan untuk kabupaten Pengunungan Arfak sebesar Rp 49,15 Miliar pada 2017 dan APBN 2018 sebesar Rp 79,9 Miliar.

Dugaan KPK Sukiman menerima suap ini antara Juli 2017 sampai dengan April 2018 melalui beberapa pihak sebagai perantara

Adapun, perkara ini merupakan pengembangan yang dilakukan KPK terhadap perkara sebelumnya melalui operasi tangkap tangan (OTT). Dalam perkara itu, KPK menjerat Amin Santono, Eka Kamaluddin, Yaya Purnomo, dan Ahmad Ghiast. 

Editor           : Kuswandi
Reporter      : Intan Piliang