Dahnil Mengaku Banyak Dihujat Netizen Soal Penganiayaan Ratna Sarumpaet

JawaPos.com – Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Dahnil Anzar Simanjuntak mengaku banyak dihujat di media sosial Twitter soal kabar penganiayaan Ratna Sarumpaet. Terlebih, usai Ratna mengakui kepada publik jika dirinya sudah berbohong.

Dahnil mengungkapkan bahwa cacian di media sosial itu diterima sejak 2 Oktober 2018. Sehari sebelum Ratna Sarumpaet menggelar konferensi pers di kediamannya di Kampung Melayu, Jakarta Timur.

“Pagi tanggal 2 pagi, sudah banyak informasi berseliweran menyerang dan yang macem-macem. Makian kepada saya, lebih banyak daripada tuduhan kepada Bu Ratna,” ujarnya saat memberikan kesaksian dalam persidangan berita bohong Ratna Sarumpaet di PN Jaksel, Kamis (11/4).

Kendati demikian, Dahnil mengaku tidak ambil pusing soal komentar netizen di media sosial kala itu. Dia beranggapan, perdebatan pendapat adalah hal yang wajar. Apalagi, di masa-masa pemilihan umum (pemilu). Dahnil Anzar Berikan Kesaksian di Sidang Ratna Sarumpaet. (Salman Toyibi/ Jawa Pos)

Lanjut Dahnil menjelaskan, pada 3 Oktober 2018 Ratna Sarumpaet menggelar konferensi pers di rumahnya di Jalan Kampung Melayu Kecil V, Jakarta Timur. Isi dari konpers itu Ratna mengakui bahwa dirinya berbohong soal penganiayaan yang dialaminya.

Mengetahui Ratna berbohong melalui siaran pers di media, Dahnil menyampaikan bahwa Badan Pemenangan Nasional (BPN) kaget dan menyesali kebohongan penganiayaan yang dibuat Ratna.

“Ya jelas kami kaget, kami nggak memperkirakan sebelumnya. BPN percaya dengan dedikasi dan komitmen beliau sebagai pegiat HAM dan keadilan,” terang Dahnil.

Diketahui, Ratna Sarumpaet ditahan polisi setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus hoax, Jumat, 5 Oktober 2018. Penangkapannya sempat menggegerkan publik karena mengaku diamuk sejumlah orang.

Tak butuh waktu lama, cerita bohongnya terbongkar. Ternyata lebam di wajah Ratna bukan akibat dipukul, melainkan akibat operasi sedot lemak di RSK Bina Estetika.

Kemudian, Jaksa Penuntut Umum mendakwa Ratna dengan dakwaan tunggal. Dia didakwa melanggar Pasal 14 ayat (1) UU No. 1 Thn 1946 ttg Peraturan Hukum Pidana atau dakwaan kedua pasal 28 ayat (2) jo 45A ayat (2) UU No 19 Thn 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Thn 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Ratna didakwa telah membuat keonaran melalui berita bohong penganiayaan yang dibuatnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Wildan Ibnu Walid

Copy Editor : Fersita Felicia Facette