Amien Rais: Tim BPN Rugi Mendengar Aktivis Kami Dipukuli

JawaPos.com – Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais memberikan kesaksian atas kasus perkara berita bohong Ratna Sarumpaet di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (4/4). Amien Rais membeberkan alasan konferensi pers tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) menggelar konferensi pers atas kaba penganiayaan yang menimpa Ratna.

Amien mengungkapkan, konferensi pers yang berlangsung pada tanggal 2 Oktober malam di kediaman Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara tersebut merupakan bentuk keprihatinan yang menimpa salah satu tim pemenangan capres cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Dia mengungkapkan, berita penganiayaan dengan foto wajah lebam-lebam itu menghebohkan masyarakat Indonesia. Bahkan, kabar itu membuat tim BPN, karena Ratna dikenal sebagai aktivis kemanusiaan sejak awal orde baru.

Karena itu, Amien mengaku tim BPN mengalami kerugian karena salah satu timnya mendapat perlakuan penganiayaan. Bahkan, Amien menyatakan pendapat bahwa kabar perlakuan penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet itu merupakan pelanggaran HAM berat dan merusak sendi-sendi demokrasi.

  Ratna Sarumpaet kembali menjalani sidang kasus berita bohong di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (Issak Ramadhani/ JawaPos.com)

“Ya betul (mengalami kerugian), karena ada aktivitas kita dipukuli, karena (Ratna) merasa tim kita (BPN), aktivis kita kok dianiaya,” ujar Amien menanggapi pertanyaan jaksa penuntut umum.

Saat sidang berlangsung, jaksa sempat menanyakan video konferensi pers pernyataan keprihatinan atas penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet di Bandung.

Amien juga menyampaikan bahwa merespon kabar kejadian Ratna Sarumpaet dianiaya pada akhir September 2018. Menurutnya, demokrasi di Indonesia tidak aman lagi karena adanya pelanggaran HAM berat yang dialami aktivis kemanusiaan. Mantan Ketua Umum PAN itu juga sempat dimintai pendapat oleh Prabowo Subianto sebelum memulai konferensi pers.

“Ya, (Prabowo) minta pendapat. Saya mengatakan, demokrasi tidak aman lagi, karena terjadi kemungkinan-kemungkinan itu (penganiayaan). HAM bagian penting dari demokrasi. Pelanggaran HAM adalah salah satu merusak sendi-sendi Demokrasi,” ungkapnya menjawab pertanyaan majelis hakim.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Wildan Ibnu Walid