Alumni dan Masyarakat Sipil Minta KPK Tak Gentar Hadapi Ancaman

JawaPos.com – Sejumlah perwakilan masyarakat sipil mendatangi Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kamis (10/1). Tak terkecuali dengan mantan pimpinan dan penasihat KPK. Maksud kedatangan mereka, untuk mendukung agar pimpinan dan pegawai KPK tetap konsisten dalam memberantas korupsi pasca kembali diteror oleh oknum tak dikenal.

Mantan Pimpinan KPK Erry Riyana Hardjapamekas berharap agar pelaku teror di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif bisa segera ditemukan dan ditindak tegas.

“Di sisi lain kami mengambil hikmah ini justru membangunkan kita semua betapa pentingnya dan betapa tidak boleh lengahnya kita untuk terus mengawal agenda pemberantasan korupsi,” kata Erry dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (10/1/l).

Sementara itu, mantan penasihat KPK Zainal Abidin yakin, dua peristiwa tersebut tak akan mematahkan semangat KPK dalam memberantas korupsi. Senada dengan Erry, Zainal berharap teror-teror terhadap jajaran KPK tak terulang lagi.

“Harapan kita, pemerintah kita di masa yang akan datang lebih serius bukan hanya pemberantasan korupsi akan tetapi juga melindungi pemberantas korupsi,” ujar dia.

Selain itu, Guru Besar Universitas Indonesia Mayling Oey melihat KPK sudah mampu melawan kejahatan korupsi sejak lama. KPK juga dinilainya mampu menciptakan perubahan yang lebih baik. Dengan demikian, sebut Oey, KPK harus tetap berani melawan segala bentuk ancaman.

“Kami sadar bahwa banyak sekali orang yang dahulu selalu apa, menikmati, sekarang merasa terancam dengan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh KPK untuk kebaikan bangsa ini. KPK harus tetap berada dan makin tegak, makin kuat. Kita selalu mendukung KPK agar tetap tegar,” jelasnya.

Lebih lanjut, aktivis sosial HS Dilond menyatakan penggunaan teror bentuk dari intimidasi. Dengan tujuan bukan hanya menakut-nakuti para komisioner atau staff KPK.

“Bukan hanya mereka tapi juga kita semua ini adalah untuk menakut-nakuti masyarakat supaya kita tidak mengejar mereka,” pungkasnya.

Editor           : Kuswandi
Reporter      : Intan Piliang