AJI: Pembatalan Remisi Susrama Momentum Selesaikan Sejumlah Kasus Lain

JawaPos.com – Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Abdul Manan menyambut baik sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang telah meneken Keppres pembatalan remisi. Dengan pencabutan remisi tersebut, maka I Nyoman Susrama, terpidana pembunuh wartawan Radar Bali (Jawa Pos Group), AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, tetap dihukum seumur hidup.

“Kami senang perkembangan ini karena presiden mendengar aspirasi AJI dan teman-teman yang lain,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Sabtu (9/2).

Namun, kata dia rasa senang tak hanya sampai di kasus yang menimpa Prabangsa. Dia ingin agar penegak hukum bisa mengusut tuntas kasus lain yang menghilangkan nyawa jurnalis lainnya.

“Kami juga berharap bisa menjadi momentum untuk menyelesaikan sejumlah kasus pembunuhan jurnalis lainnya,” tuturnya.

Adapun kasus-kasus yang dimaksud, pertama Fuad Muhammad Syarifuddin adalah seorang jurnalis Harian Bernas di Yogyakarta. Dia dibunuh pada 16 Agustus 1996. Dikabarkan, pembunuhan ini dikarenakan pemberitaan mengenai dugaan korupsi di Bantul, Kedua ada juga Naimullah yang bekerja sebagai wartawan Sinar Pagi di Kalimantan Barat. Dia meninggal pada 25 Juli 1997, namun tidak ada tindak lanjut.

Kemudian, Ketiga menimpa Muhammad Sayuti Bochar dari media Pos Makassar yang diduga dibunuh pada 11 Juni 1997. Saat itu polisi menyatakan Sayuti korban kecelakaan. Keempat yaitu Ersa Siregar yang tewas pada tahun 2003 karena baku tembak pasukan TNI dengan Gerakan Aceh Merdeka di Kuala Maniham, Simpang Ulim. Namun, tidak ada langkah hukum atas pembunuhan ini.

Kelima Muhammad Jamaluddin juru kamera TVRI Aceh. Dia ditemukan tewas pada 17 Juni 2003. Terdapat berbagai dugaan atas kematiannya ini, baik dibunuh kelompok GAM hingga ada yang menuduh aparat TNI di Aceh menculiknya karena motif tertentu. Hingga kini tidak ada tindak lanjut.

Keenam, Herliyanto, seorang wartawan lepas Tabloid Delta Pos Sidoarjo ditemukan tewas pada 29 April 2006 di hutan jati Desa Taroka, Probolinggo, Jawa Timur. Namun, kasus ini empat pelaku yang buron belum ada titik terang. Ketujuh Anak Agung Narendra Prabangsa yang tewas pada 16 Februari 2009 di Pelabuhan Padang Bai. Dia merupakan wartawan Radar Bali. Saat itu, satu pelaku yang merupakan Susrama divonis seumur hidup dan delapan pelaku lain dihukum 5 hingga 20 tahun.

Kedelapan, Alfrets ditemukan tewas 18 Agustus 2010 di Pelabuhan Pulau Kisar, Maluku Tenggara Barat. Pemred Tabloid Pelangi ini melakukan investigasi kelangkaan bahan bakar minyak di Kisar bersama Leksi Kikilay. Dugaannya, empat orang jadi tersangka namun penetapan itu hanya rekayasa.

Kesembilan, Ridwan Salamun yang merupakan kontributor Sun TV di Tual, Maluku Tenggara. Dia merupakan warga Kampung Banda Eli. Dia tewas dikeroyok. Adapun, tiga pelaku divonis empat tahun penjara namun mereka berhasil kabur.

Kesepuluh, Ardiansyah Matrais dengan dugaan tewas dibunuh karena ditemukan dalam kondisi penuh luka. Dia merupakan wartawan dari Media Merauke TV hingga kini tidak ada tindak lanjut.

Sebelumnya, Presiden Jokowi telah meneken Keppres pembatalan remisi yang diberikan terhadap I Nyoman Susrama, terpidana pembunuh berencana wartawan Radar Bali (Jawa Pos Group), AA Gde Bagus Narendra Prabangsa.

“Sudah-sudah saya tanda tangani,” timpal Jokowi, di Surabaya, Sabtu (9/2).

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Humas Ditjen Permasyarakatan (PAS), Ade Kusmanto mengatakan, pihaknya saat ini menunggu keluarnya Kep‎pres yang dikeluarkan oleh Presiden Jokowi. Setelah itu baru bisa dilaksanakan.

“Tahapannya dari Presiden ke Setneg, kemudian ke Menteri Hukum dan HAM, ke Dirjen, nanti Dirjen ke Kanwil, nanti Kanwil ke UPT, nanti setelah itu UPT ke rutan. Setelah itu kepala rutan Bangli menyampaikan ada perubahan‎,” pungkasnya.

Editor           : Kuswandi
Reporter      : Intan Piliang