700 Hari Pasca Penyerangan Novel, LBH Jakarta Minta Polri Serius

JawaPos.com – Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan tidak bisa hadir dalam aksi solidaritas memperingati penyerangan terhadapnya. Aksi tersebut bertajuk ‘Aksi Diam 700 Hari Pasca Penyerangan Novel Baswedan’.

Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Arif Maulana mengaku ada alasan kuat mengapa Novel tidak bisa hadir dalam aksi kali ini. Padahal, dalam beberapa kali aksi yang diselenggarakan, Novel tak pernah absen.

“Novel tak bisa hadir dan bergabung bersama kita karena sedang di Singapura. Tadi saya dapat kabar sekitar jam setengah 5 atau setengah 6,” ucapnya di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (12/3)

Dia menjelaskan, keberadaan Novel di Singapura guna menjalani proses pemeriksaan. Hasil pemeriksaan dikatakan bahwa mata kiri Novel makin baik. Sementara mata kanan Novel yang sempat kurang baik sudah cukup stabil.

“Sebelumnya sempat turun matanya sekarang sudah mulai stabil dan kembali ke posisinya. Jadi, mulai membaik mata kanan. Itu kabar tidak lama sebelum kita melakukan konferensi pers pada sore ini,” tuturnya.

Arif menambahkan, meski tanpa kehadiran Novel, namun mereka tetap menuntut Polri dan pemerintah untuk mengungkap pelaku penyerangan. Pasalnya, hingga hari ini tak diketahui pasti oknum penyerangan terhadap Novel. Padahal, sudah dibentuk tim gabungan Polri dan KPK.

“Tim gabungan antara polri dengan KPK dan kuang lebih sudah 3 bulan berlalu tidak ada hasil yang disampaikan kepada kita semua,” tegasnya.

Arif pun meminta agar tim gabungan yang dibentuk Polri bisa menyampaikan secara transparan dan akuntabel. “Tim gabungan berisi banyak perwira banyak penyidik, tapi belum ada hasil yang disampaikan kepada publik,” ujarnya.

Selain menyinggung Polri, dia juga mempertanyakan sikap pimpinan KPK yang sampai saat ini belum menindaklanjuti terkait pelaporan obstruction of justice. “Tidak ada perkembangan berarti, kasus masih gelap,” pungkasnya.

Editor           : Estu Suryowati
Reporter      : Intan Piliang