700 Hari Berlalu, Koalisi Masyarakat Sipil Sampaikan 3 Tuntutan

JawaPos.com – Perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi, Shaleh Al Ghifari meminta kasus Novel Baswedan tak dikaitkan dengan pemilihan presiden (Pilpres). Mereka meminta sejumlah pihak tidak menggunakannya sebagai alat kampanye.

“Koalisi menekankan bahwa pengungkapan kasus Novel Baswedan jauh melampaui urusan Pilpres. Tendensi berbagai pihak menjadi ini sebagai alat kampanye atau menyerang secara politik harus disudahi,” kata Ghifari di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (12/3).

Di 700 hari penyerangan terhadap penyidik KPK itu, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi kembali menuntut tiga hal. Pertama, Presiden Jokowi untuk membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) yang independen. TGPF bertanggung jawab langsung kepada presiden.

Kedua, lanjut Shaleh, pihaknya mendesak KPK untuk menindaklanjuti laporan dugaan perintangan penyidikan atau obstraction of justice.
“Termasuk teror-teror lainnya terhadap pegawai KPK lainnya,” tegas dia.

Ketiga, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi menuntut pihak kepolisian untuk menghormati pembentukan TGPF independen.”Kami menuntut kepolisian menghormati pembentukan TPGF, serta bersedia bekerja sama secara penuh melakukan pengungkapan kasus,” ucapnya.

Adapun dalam acara tersebut, Novel Baswedan tidak hadir. Novel diketahui tengah berada di Singapura untuk menjalani pengobatan pada matanya.

Sekadar informasi, pada 11 April 2017 penyidik KPK, Novel Baswedan disiram menggunakan air keras oleh dua orang yang tak dikenal saat hendak salat subuh di masjid dekat rumahnya di wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dari kejadian nahas itu mengakibatkan mata kiri Novel terluka cukup parah.

700 hari sudah dilalui Novel, tanpa kejelasan dan titik terang atas siapa pelaku atau dalang dibalik penyerangan tersebut.

Editor           : Imam Solehudin
Reporter      : Intan Piliang