Kisah nyata di balik “Bohemian Rhapsody”

Jakarta (ANTARA News) – Film “Bohemian Rhapsody” mengisahkan kemunculan band rock ikonik Inggris Queen yang fokus pada pentolannya, Freddie Mercury. 

Berikut adalah fakta dan fiksi di dalam film “Bohemian Rhapsody”, seperti dikutip dari Time, Minggu.

Apakah gigi Freddie Mercury sangat menonjol seperti gigi palsu Rami Malek?

Malek mengatakan ia memakai gigi palsu setahun sebelum pengambilan gambar agar bisa terbiasa bicara dan menyanyi saat mengenakannya. Gigi Mercury memang jadi salah satu ciri khas, meski tidak betul-betul menonjol seperti gigi Malek di film.

Mercury dilahirkan dengan empat gigi atas ekstra, membuat rahangnya maju. Asisten pribadinya, Peter Freestone, mengatakan bahwa gigi Mercury adalah sumber rasa tidak percaya dirinya sepanjang hidup, tapi dia dikabarkan takut menjalani operasi untuk memperbaikinya karena khawatir akan mempengaruhi kemampuan bernyanyi.

Apakah Queen merekam “Bohemian Rhapsody” di rumah pertanian di desa?

Studio rekaman di rumah pertanian di mana band itu membuat lagu “Bohemian Rhapsody” dikenal sebagai Rockfield Studios. Di film, Rockfield digambarkan sebagai tempat rekaman yang tak biasa dan eksperimental, tapi hingga saat ini bekas rumah pertanian itu masih dianggap sebagai studio premiere.

Baca juga: Bohemian Rhapsody, kisah Freddie Mercury dan lagu-lagu legendaris Queen

Apakah Freddie Mercury mencintai kucing sama seperti di film?

Ya. Mercury memiliki beberapa kucing sepanjang hidupnya. Berdasarkan memoir Freestone, Mercury bicara dengan kucing-kucingnya lewat telepon saat tidak sedang di rumah.

Apakah seksualitas Freddie Mercury tergambarkan secara akurat di film?

Salah satu hubungan terpenting dalam hidup Mercury adalah dengan Mary Austin (dimainkan oleh Lucy Boynton), yang ditemuinya sebelum dia terkenal. Dalam kehidupan nyata, Mercury dan Austin tinggal bersama dan menjalin asmara, bahkan bertunangan, selama beberapa tahun apda 1970-an. 

Meski hubungan mereka kandas ketika Mercury mulai tidur dengan lelaki, keduanya tetap berteman hingga akhir hayat.

Dalam film, ada sedikit ketegangan dalam hubungan mereka. Ketika asmara mulai memudar, Mercury mengatakan pada Austin bahwa dia berpikir dirinya biseksual, yang ditimpali, “Tidak Freddie, kamu gay”. 

Dalam film, fokusnya adalah hubungan seksual Mercury dengan lelaki, kenyataannya jauh lebih rumit. Berdasarkan buku memoir “Mercury and Me”, yang ditulis pasangannya Jim Hutton (diperankan Aaron McCusker), Mercury tetap menjalin hubungan seksual dengan perempuan dan laki-laki setelah Austin.

Baca juga: Spontanitas Freddie Mercury jadi tantangan untuk bintang “Bohemian Rhapsody”

Apakah Freddie Mercury bertemu Jim Hutton di salah satu pesta di rumahnya?

Tidak. Dalam wawancara pada 2006, Hutton mengatakan mereka bertemu di bar gay di London. Memang betul, mereka bertemu setelah Hutton awalnya menolak Mercury beberapa tahun lalu, tapi adegan di mana Mercury mencari Hutton di buku telepon sebelum menemuinya adalah sentuhan Hollywood. Kenyataannya, kata Hutton, mereka kebetulan saja bertemu bertahun-tahun kemudian di bar gay.

Kapan Freddie Mercury didiagnosis HIV?

Konser Live Aid pada 1985 digambarkan di film tak hanya sebagai klimaks cerita, tapi juga klimaks karir Mercury, yang kesehatannya menurun setelah didiagnosis HIV. Pada kenyataannya, Mercury baru didiagnosis HIV pada 1987, dua tahun setelah konser.

Apakah manajer Mercury, Paul Prenter, betul-betul mengkhianatinya?

Ada kebebasan interpretasi dalam membuat karakter Prenter (diperankan Allen Leech) di film. Di film, Prenter masuk televisi setelah dia dipecat karena membeberkan kehidupan pribadi Mercury. Pada kenyataannya, Prenter masih bekerja untuk Mercury saat konser Live Aid. Meski dia tak pernah membeberkan kehidupan pribadi Mercury di tayangan, dia melakukannya untuk media cetak.

Berdasarkan buku Hutton, Prenter menjual cerita untuk tabloid “The Sun” pada 1987 dengan judul “AIDS Membunuh Dua Kekasih Freddie”. Berita ini yang membuat Mercury memecat Prenter.

Penerjemah: Nanien Yuniar
COPYRIGHT © ANTARA 2018